KNRP Hadiri Pertemuan dan Forum Diskusi untuk Gaza 2025 Bersama Lembaga Kemanusiaan
Jakarta — Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) menghadiri Pertemuan dan Forum Diskusi untuk Gaza Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP). Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (5/12) mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai, bertempat di kantor YPSP, Jl. Tebet Barat Dalam V No.16 RW.4, Kelurahan Tebet Barat, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.
Forum ini dihadiri oleh berbagai lembaga kemanusiaan di Indonesia serta menghadirkan sejumlah tokoh sebagai pembicara, di antaranya Dr. Ahed Abu Alatta (Direktur YPSP), Prof. Sudarnoto (Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri), dan Farid Zanzabil Al Ayubi (aktivis kemanusiaan serta mahasiswa Universitas Islam Gaza yang telah kembali dari Jalur Gaza).
Dalam sambutannya, Dr. Ahed Abu Alatta menegaskan bahwa forum ini digelar untuk memperkuat kembali sinergi antar-lembaga dalam membantu Palestina, khususnya Jalur Gaza, yang hingga kini masih mengalami kehancuran akibat perang dan terus berlanjutnya serangan oleh pihak penjajah israel yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Acara berlangsung melalui rangkaian pembukaan, pemaparan materi dari para narasumber, sesi diskusi, serta penayangan dokumentasi kegiatan dan kondisi Jalur Gaza, sebelum akhirnya ditutup oleh panitia.
Dalam poin-poin materinya, Dr. Ahed Abu Alatta menyampaikan bahwa penjajah israel masih melakukan serangan meski telah ada gencatan senjata. Ia menyoroti sejumlah pelanggaran, di antaranya tidak diperbolehkannya masuk tenda dan rumah sementara ke Jalur Gaza, pelarangan masuknya obat dan alat medis, serta kebijakan yang menghalangi kembalinya warga Gaza yang sempat keluar wilayah. Ia menilai strategi pengusiran paksa terus berlangsung dan perang masih terjadi dalam bentuk lain sehingga genosida, menurutnya, masih berlanjut.
Sementara itu, Prof. Sudarnoto menyampaikan bahwa yang terjadi selama ini bukanlah “perang” dalam pengertian seimbang, melainkan penyerangan sepihak terhadap Jalur Gaza. Ia mengutip pernyataan Perdana Menteri penjajah israel yang menyebut keamanan hanya tercapai jika Hamas dan Iran dihancurkan. Ia juga menyinggung agenda Abraham Accord sebagai upaya membangun regional security serta menyebut Indonesia sebagai salah satu sasaran penting. Ia menilai tidak adil jika Hamas diminta melucuti senjata sementara penjajah israel tidak.
Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia menjadi headquarters aliansi global pembela Palestina sebagai turunan dari konferensi di Istanbul, serta adanya Deklarasi Asia Pasifik untuk Bela Palestina hasil kerja sama MUI dan BKSAP. Selain itu, ia menyoroti gerakan wakaf Asia Pasifik untuk rekonstruksi Jalur Gaza dan mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak terjebak dalam dinamika politik global tertentu.
Farid Zanzabil Al Ayubi, yang baru kembali dari Gaza, menceritakan bahwa Rumah Sakit Indonesia dianggap sebagai “hadiah terbesar” oleh masyarakat Gaza. Ia menggambarkan Gaza sebagai wilayah yang memiliki keberkahan besar sebagai bagian dari lingkungan Masjid Al-Aqsha, dengan potensi pertanian dan sumber daya alam yang melimpah, termasuk kualitas tomat yang diakui hingga Eropa. Ia juga memaparkan bahwa biasanya terdapat tanda-tanda atau sinyal sebelum serangan dilakukan.
Menurutnya, literasi dan edukasi merupakan kunci penting dalam menumbuhkan generasi pejuang. Ia menutup materinya dengan menyampaikan empat langkah pembebasan Masjid Al-Aqsha menurut Abdul Fattah Al-Huwaisi, yaitu dengan mengatasnamakan Islam, menumbuhkan optimisme, membaca Surah Al-Isra pada malam hari, dan menjadikan Masjid Al-Aqsha sebagai episentrum perjuangan umat. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi lembaga-lembaga kemanusiaan Indonesia untuk menyatukan visi dan memperkuat langkah nyata dalam mendukung rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza. (wm/knrp)
